Pribadi

Teror Dari Tetangga (Bagian 1)

Foto : Rumah Kosong Persis Berhadapan dengan Rumah Bapak

Malam itu jam menunjukan pukul 01:00 dinihari, HP bergetar dan caller id menunjukan “My Dad”.

Padahal saat gue tinggal pulang sore sebelumnya semuanya sudah gue pastiin aman terkendali, namun panggilan telepon bokap pagi itu ternyata….

“Ren, coba dengerin ini” kata bokap gue disebrang sana.

Gue denger suara nyokap lagi ngaji tapi ngajinya teriak-teriak dan sedikit ngeledek gitu.

Subhan Allah, ada apa ini?” dalam hati gue.

Tanpa pikir panjang, walaupun letih masih berasa, ambil kunci motor gue langsung gaspol balik lagi kerumah bokap. Beruntung rumah bokap gue masih satu komplek.

—– Astaghfirullah, gue kaget bukan kepalang pas lagi ngetik paragraf diatas, amplop isi hasil rontgen kepalanya nyokap yang gede itu jatuh dari atas meja disamping gue —–

Sampai dirumah bokap, dari depan teras rumahnya sudah terdengar suara nyokap gue yang lagi teriak-teriak melafalkan surah Al Baqarah ayat 255 atau lebih terkenal dengan sebutan Ayat Qursi.

Gue langsung bergegas kedalam kamar utama, tempat dimana nyokap terbaring selama jatuh sakit (sejak Mei tahun 2017).

Nyokap langsung menghentikan ngajinya menatap gue yang baru datang dengan tatapan yang amat tajam, yoi guys matanya melototin gue.

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh” gue lepas salam ke nyokap.

Namun salam tersebut tidak dijawabnya, tatapan tajamnya pun berlalu dari gue, nyokap lanjut lagi teriak-teriak ngaji. Dikamar itu sebelumnya sudah ada bokap gue, adik gue dan mbah putri gue, semuanya bingung menghadapi keadaan itu.

“ini mama?” Sergah gue, entah kenapa pertanyaan itu meluncur dari mulut gue, mungkin saat itu gue yakin kalo yang lagi berbaring ini bukan nyokap gue, walaupun secara tampilan fisik itu badannya nyokap gue.

Pertanyaan itu dijawab hanya dengan menggeleng-geleng sambil melotot (mungkin artinya bukan).

“Kalo ini bukan mama lalu siapa kamu?” Lanjut gue.

“Yadiii, kamu jahaaat”

“Yadiii”

“Yadiii”

Begitu terus berulang-ulang diucapkan oleh nyokap gue.

By the way, Yadi itu adalah om gue, adik nya bokap gue persis dibawahnya. Memang sudah amat panjang konflik mereka berdua, namun gue nggak yakin ini ulahnya beliau.

“Yadi? Yadi siapa? Yadi mana?” Tanya gue pura-pura ngga faham.

“Yaaaa diiiiii” begitu jawab nyokap gue sambil teriak-teriak.

Gue terus bertanya ke nyokap gue seolah-olah gue nggak kenal siapa itu Yadi.

“Yadi, adiknya itu” begitu kata nyokap gue sambil nunjuk dengan tegas.

“Hahaha, ok, Yadi lengkapnya apa?” Desak gue.

Sontak kami semua yang ada dikamar itu kaget, ketika nyokap gue menyebut nama lengkapnya dengan benar. Kami semua saling tatap-tatapan.

Dengan emosi yang mulai naik gue bentak nyokap gue “Ah bohong kamu!!!”

“Nggak mungkin om gue ngelakuin ini” bentak gue.

Bersambung…

Gue yang masih nggak yakin dengan ucapan-ucapan nyokap terus mendesak hingga akhirnya dia mengakui dengan mengungkap jati dirinya sedikit demi sedikit.

Nantikan kelanjutan ceritanya ya guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s