Islam · Terkini

Jangan Ada Lagi Abu Janda diantara Kita

Orang awam melihat dengan bashar (pandangan mata semata). Orang alim melihat dengan bashirah (pandangan ilmu). Karena itu, orang awam mudah tertipu dengan sekadar apa yang terzahirkan. Sedangkan orang alim menimbang lebih banyak dengan keilmuan.

Karena itu, label ‘Tabligh Akbar’ lebih didominasi kalangan awam. Karena itu menunjukkan banyaknya hadirin. Mereka juga lebih menimbang popularitas pemateri belaka. Kuantitas dan popularitas tidak semata-mata menunjukkan mesti benar dan berkah. Bahkan, kadang di nash wahyu, disebutkan sesatnya mayoritas dan menyesatkannya. Juga disebutkan dalam beragam atsar bahwa popularitas itu rentan dengan fitnah.

Yang lebih mengherankan lagi bagi saya pribadi adalah pihak yang konon berilmu atau sudah lama belajar, namun tidak memizankan suatu produk dengan neraca keilmuan. Semata menimbang dari kuantitas atau popularitas. Ini besar ada dua kemungkinan sebab:

[1] Ilmunya selama ini tidak bermanfaat, atau
[2] Ilmu yang dipelajarinya selama ini bukan ilmu yang benar

Ketika seseorang mempelajari manhaj Salaf dan menelaah betul-betul bagaimana kalangan Salaf bersikap; kemudian dia berazam untuk mengikuti jejak sikap mereka, maka ilmunya akan bermanfaat. Di antara efek manfaatnya: tidak sembarangan menjadikan dai manapun sebagai lumbung ilmu untuk ditimba; tidak menjadikan sekadar banyaknya peminat dan popularitas dai sebagai neraca kebenaran.

Kecuali jika yang dia pelajari tidak dimanfaatkan. Belajar bukan untuk diamalkan. Salaf bersikap begini, tapi pelajarnya bersikap berbeda. Alasan zaman, katanya. Alasan teritori, katanya. Alasan persatuan, katanya.

Atau sebab kedua: selama ini bukan mempelajari manhaj Salaf,. Dan sepertinya ini sebab terjamak. Mengenal Sunnah melalui kajian-kajian yang tak ada fokusnya di sikap beragama Salaf terhadap fitnah. Tentu kajian-kajian Sunnah semuanya bermanfaat. Pohon, dari akarnya hingga daunnya bermanfaat. Tetapi kehilangan daun lebih ringan dari kehilangan akar atau batang terbesar. Ketika selama ini sekadar mengumpulkan daun atau rerumputan, maka wajar mudah terombang-ambing kesana-kemari.

Sayangnya, para pemungut daun jatuh dan rerumputan merasa bisa membedakan mana ilalang mana beringin. Ketika ditunjukkan ‘inilah beringin’, ia ingkari karena tidak pernah melihat beringin seperti itu. Baginya, beringin itu seperti ilalang yang selama ini ia selalu selami.

Maka hendaklah pelajari asal manhaj Salaf untuk beragam kasus kehidupan; yang dengannya insya Allah akar akan kuat dan beragam cabang masalah akan tegar menengadah ke langit.

Jika katanya belajar namun hasilnya sama saja seperti orang awam dari segi sikap beragama, atau bahkan lebih parah kerendahannya, maka wajar dan maklum: kelak pemujaan kuburan akan disetujui, perayaan maulid Nabi dibela, mengumbar aib penguasa jadi sarapan harian dan seterusnya. Kebalikannya: yang mengingkari itu semua dianggap pemecah belah umat, tidak ilmiah, tidak mengayomi dan merusuh.

Orang berpakaian akan terkesan aneh dan dianggap salah, jika tampak di tengah kumpulan orang-orang telanjang.

Oleh:Ustadz Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy Hafidzahullah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s