Islam

Manhaj 101: Bagi Pemula

Oleh: Ustadz Zulfikar Matin Effendi Hafidzahullah

“Manhaj” adalah metode ‘penerimaan”, ‘analisa hukum’, dan kemudian cara ‘penerapan hukum’ itu sendiri.

Ilustrasi:
LAMPU MERAH

Berkata kelompok
A:
“Lampu merah itu berhenti! Apapun keadaannya!”

B:
“Lampu merah itu berhenti, kalau ada polisi”

C:
“Lampu merah itu berhenti, kecuali kalau dari jalur lain kosong, boleh maju”

D:
“Lampu merah itu gak menentukan apa-apa. Yg penting selamat, mau maju ataupun nerobos.. ”

E:
“Semua pendapat, memiliki kebenaran. Mari saling menghormati!”
.
.
Dari ilustrasi diatas, manhaj yg haq akan menjadi standar awal keselamatan.
Dan tidak semua manhaj (metodologi analisis) bisa dibenarkan.

Dari 5 ilustrasi diatas, mana kira-kira yg lebih dekat pada kebenaran? 🙂
.
.
================================
Sekarang: Apa itu Manhaj Ahlussunnah:
================================

Yaitu metodologi penerimaan dan analisa hukum, juga penerapannya dalam agama islam, yang tidak sekedar bersumber dari alquran dan assunnah ash-shahiihah saja, namun juga “metode penelitian & penetapan” alquran dan assunnahnya mendahulukan qaul generasi awal: yaitu sahabat, kemudian tabi’in, kemudian tabi’ut taabi’in (habis pada pertengahan abad keempat hijriyah)… Baru setelahnya, adalah para ulama-ulama rasyidin setelah mereka.

Manhaj ahlussunnah akan meninggalkan qaul ulama setelah tiga generasi awal, jika qaul tersebut bertentangan dengan kesepakatan ulama tiga generasi awal tersebut. Utamanya tentang pasal aqidah, demikian juga pasal selainnya. Misalnya saja tentang penetapan hukum “musik” (bukan sya’ir), qaidah riba, dan contoh-contoh lainnya..

Alqurannya pasti benar, assunnah ash-shahiihahnya pasti benar. Namun perhatikan dan dengarkan, pendapat siapa yg dinukil dalam memaknainya? Apakah langsung ‘raw-material’ quran dan hadits segera dimaknai oleh sang da’i? Atau mengambil dari makna-makna yg ekstra kontemporer??

Atau menukil makna yg sudah matang dari pendapat para ‘ulama tiga generasi awal (salaful ummah) yg bergaransi?

Ini garansinya, dalam shahih bukhari:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟
قَالَ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; “Siapakah manusia yang terbaik?” Nabi menjawab: “yaitu
(1) generasiku, kemudian
(2) generasi sesudah mereka, kemudian
(3) generasi sesudah mereka…”
.
.
Semoga mengandung manfaat untuk memilih guru dan majelis.

Berkata ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu’anhu:

انظروا عمن تأخذون هذا العلم فإنما هو الدين
”Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, karena ia adalah dien (life path)”

*** faidah duduk bersama teman yg baik, akh Teguh Prambowo semoga Allah menyayanginya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s