Dunia · Internasional · Islam · Sejarah · Terkini

My enemy’s enemy isn’t always my friend

Oleh: Abdussalam J. Yamjirin

Penyakit lama yang masih banyak menjangkiti sebagian kaum Muslimin dimasa sekarang adalah penyakit “asal musuh Amerika”.

Ini penyakit lama sebenarnya..
Penyakit era 70-90an, namun karena masih banyaknya orang awam yang belajar bukan dari buku sejarah, melainkan slebaran propaganda, menjadikan bibit penyakit ini masih saja ada hingga sekarang.

Karena penyakit ini pula, banyak dari saudara kita dulu yang terjebak rasa cinta pada Pemimpin Revolusi Iran Khomeini, Pemimpin Hizbulatta Hasan Nasrallat, hingga Putin dan tokoh-tokoh Kiri yang lain. Tak main-main, bahkan sempat ada sekelompok kaum Muslimin yang ngefans pada Kim Jong Un, Hitler, hingga Stallin dengan sebab yang sama.

Diantara contoh terbaru yang sedang hangat akhir-akhir ini adalah munculnya syair puji-pujian terhadap mantan Presiden Iraq, Saddam Hussein.
Sebabnya sudah bisa anda tebak.
Hanya karena Saddam Hussein sangat dibenci Amerika.

Tapi siapa sih Saddam Hussein sebenarnya?

Dia adalah Presiden Iraq yang memerintah Iraq dari tahun 1979 hingga 2003. Tak hanya itu, dia adalah pemimpin Partai Sosialis Baats Iraq.
Benar.. SOSIALIS BAATS.
Sama seperti Hafez Assad dan anaknya, Bashar Assad. Hanya saja di Iraq.

Dan sebagaimana kader Baats yang lain, ia pun mendedikasikan dirinya untuk memperjuangkan Sekulerisme di negrinya.

Pada masanya, beribu nyawa melayang dalam genosida yang dilakukan secara sistematis dari masa ke masa.
Sebut saja pembantaian suku Kurdi dalam Serangan Gas Beracun Halabja dan Serangan Militer Al-Anfal (1988) yang menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang, juga peristiwa Invasi Kuwait (1990) yang menewaskan ribuan kaum Muslimin dan memaksa jutaan yang lain harus mengungsi.

Yang paling lucu ialah anggapan kalau Saddam adalah seorang Islamis tulen.
Dengan berbekal fotonya ketika sedang Sholat, juga sejarah antipatinya pada Amerika dan Iran, ditambah beberapa bumbu cerita micin yang dikisahkan para simpatisan Baats pada media-media Islam kalau dimasa Saddam “Islam pernah berjaya” (untuk meraih simpati kaum Muslimin agar Baats bisa bangkit lagi di Iraq), menjadikan sebagian kaum Muslimin yang awam dan tak tau sepak terjang Saddam semakin besar kegilaannya dalam mencintainya.

Padahal dimasa Saddam, ia sendiri pernah mengucapkan bahwa “Baats adalah agamaku”, sebagaimana yang sering didengung-dengungkan oleh pengikut Baats lainnya seperti Bashar Assad. Dia memang anti pada Barat, tapi ia pun bukan seorang Islamis.
Andilnya dalam memberangus Islamisasi Parlemen di Iraq dan pembantaian yang dilakukannya di negri Ahlussunnah Kuwait sudah cukup menjelaskannya.
Dan saya menyarankan pada saudara-saudaraku disini untuk faham kaidah “musuh dari musuh bukan berarti teman”, itu saja.

Ada nih yang sampai bilang: “Tapi Saddam beda sama Bashar, dia anti sama Iran.”
Eitz.. jangan salah, sebelum kasus revolusi Suriah ini pun Bashar juga antipati sama campur tangan Iran, bahkan Iran pun sudah mengeluarkan pernyataan kalau Bashar telah Kafir.

“Lalu kenapa setelah masa revolusi ini Bashar jadi terkesan dekat dengan Iran?”

Sebab apalagi selain Politik?
Bashar tak ingin kehilangan kursi kepemimpinan Partai Baats di Suriah, ia pun menggandeng Iran dengan iming-iming bersedianya Bashar untuk “mengikuti” Iran dan mengingatkan “kesamaan” ideologi dasar antara Bashar dengan Iran (punya background sebagai seorang Syi’ah, meski pada akhirnya Bashar lari ke Sekulerisme).

Kembali lagi, “asal musuh Amerika” ini bukanlah penyakit yang layak disepelekan. Ini adalah penyakit yang harus disembuhkan sesembuh-sembuhnya dari jiwa-jiwa kaum Muslimin hari ini dan nanti, yakni agar musibah-musibah “kejlomprong rupo” (jatuh terjebak pencitraan) itu tak terus terulang dari masa kemasa, dari waktu ke waktu, hingga dari generasi ke generasi.

Cukupkan generasi pemuda tahun 70-90an saja yang pernah jatuh ke lubang itu, kita harus belajar dari musibah itu sehingga tak lagi jatuh ke perkara yang sama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998)

Kalau terpaksanya harus anti pada Ahlul Kitab Harbi di Barat (yang menzhalimi kaum Muslimin).. okelah, seperti Amerika atau negara Israel contohnya.
Tapi tidak dengan cara merangkul Harbi-harbi yang lain seperti Sekuleris hingga Atheis dan Komunis ya..
Catat!

~> “My enemy’s enemy isn’t always my friend”
Musuh dari musuhku tak selalu temanku.

Belajarlah dari sejarah dan pengalaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s