Islam

Demokrasi dan Demonstrasi

Kemarin di bandara syamsudin noor, pas nunggu pesawat, disamping saya wna yg kemudian saya tahu dia seorang warga negara amerika. Saya lirik ipadnya: ternyata ia sedang membuka satu website nasional yg cukup populer. Yg menarik adalah rupanya ia sedang membaca berita2 tentang pak habib. Weleh … weleh. Saya perhatikan dia geleng2 kepala sambil memandangi ipad-nya. Karena heran, lalu saya iseng tanyakan: “what does make you interest in that news? do you speak bahasa?”

“ya, saya akrab dgn indonesia sejak 15thn yg lalu … I’m fluent in bahasa” he said. Lalu mulailah obrolan kita, beliau ini mengaku seorang petroleum engineer yg sudah bekerja di banyak ladang minyak di berbagai negara sejak thn 2000an. Tadinya karena se-aliran dlm hal perinsinyuran, saya mau ajak dia ngobrol tentang dunia perminyakan … tapi lha njur malah mas Greg itu lebih tertarik dgn thema obrolan tentang politik islam. Mungkin karena beliau mengendus aura sledingan dari wajah saya … entahlah.

Singkat cerita … dia mengatakan bahwa hidup dan wara-wiri 15 thn di indonesia, tak pernah dirinya merasa khawatir dgn radikalisme islam seperti saat ini. He said: “nowadays, i do feel more safe live in saudi arabia than in indonesia”. Lalu saya jawab dgn guyonan: “no worry, buddy … even the indonesian lion heart now lives in saudia arabia”. Dan kamipun tertawa.

Lalu dgn serius dan hati2, saya beri beberapa penjelasan. Yg pertama, bahwa potret radikalisme dlm dunia islam itu tak bisa dilepaskan juga dari peran negara2 barat yg terlalu banyak campur tangan dlm urusan negara lain. Saya kasih contoh, jika saja tidak ada eksploitasi berlebihan dari kapitalisme barat, maka orang2 seperti pak habib itu tak akan menggunakan isu asing-aseng, neolib dan semisalnya dalam membuat kegaduhan. Kedua, demokrasi pun berkontribusi besar dlm radikalisme. Saya katakan kepadanya bahwa dulu sebelum 1998, kita tidak mengenal demonstrasi atau kegaduhan seperti saat ini, tetapi semuanya itu berubah total setelah kebebasan dan demokrasi pasca reformasi, yg mana negara2 barat sendiri yg mensponsorinya.

Lebih lanjut saya jelaskan, wajah islam yg garang yg dilihatnya itu adalah bukan wajah islam yg asli. Untuk memudahkan pemahamannya, saya jelaskan posisinya saat ini ibarat orang asing yg sedang berdiri dalam lintasan elektron terjauh dari inti atom (neutron). Yg dilihatnya itu cuma elektron2 terluar yg bergerak acak, dimana artinya ia hanya bersinggungan dgn sekelompok orang islam yg paling primitif, yg beramal tanpa aturan dan tanpa dalil. Jadi, kalau ingin tahu wajah islam yg asli, maka ia perlu pindah lintasan masuk lebih dalam mendekati inti atom atau ajaran islam sesungguhnya. Dan layaknya elektron yg berpindah orbit, selalu diperlukan usaha dan energi. Lalu dia bertanya: “what does it mean?” … saya jawab singkat: “hadiri masjid terdekat, ucapkan syahadat” … Ia pun tercenung sejenak sambil menghela nafas dan berkata: “please recommend me a place”

Lalu saya rekomendasikan beberapa masjid di jakarta dan bogor (sekitar rumahnya di cibubur), dan kamipun berpisah saling mendoakan. Doa terbaik saya tentunya adalah harapan agar Allah mudahkan langkahnya menjadi seorang muslim.

Oleh: Katon Kurniawan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s